REVOLUSI INJIL TELAH TIBA!

Sebagian besar dari dunia telah“di-Kristenkan”… sekarang, marilah “meng-Injilkan” seluruh dunia.

phpThumb_generated_thumbnail

 
“Revolusi”

Merupakan sebuah kata luar biasa yang mempunyai arti “menjungkir-balikkan.” Mengapa “Revolusi Injil?” Mengapa tidak memilih kata seperti “pembaruan” atau “kebangunan?” Sederhana sekali, permasalahan yang ada telah sangat dalam sehingga hanya revolusi saja yang bisa merubahnya – diperlukan sebuah perubahan pola pikir dalam memahami Injil. Beberapa orang mengatakan bahwa Amerika telah mengeraskan hati terhadap Injil. Saya rasa tidak. Amerika harus mendengar Injil.

Injil adalah apa yang telah dilakukan Tuhan melalui Kristus

Agama menekankan pada apa yang “harus kita lakukan” agar diselamatkan, disembuhkan, makmur atau memperoleh kebangunan.  Ada seorang pemimpin muda yang kaya bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, ““Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan.” Hal ini meringkaskan dilema dari semua agama. Selama pertanyaan kita adalah, “Apa yang harus aku lakukan?” jawabannya akan selalu, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kau lakukan.” Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kebangunan rohani? Apa yang diperlukan? Seberapa banyak doa, puasa, belajar dan iman yang dibutuhkan? Apa yang harus dilakukan agar disembuhkan? Lima langkah, sepuluh langkah atau limabelas langkah untuk mendapat kesembuhan? Bagaimanapun juga setiap orang yang sakit tidak akan mencapai standar tersebut. Agama berfokus pada perbuatan manusia dan usaha sendiri, sementara Injil memerdekakan. Pertanyaan kita tidak lagi, “Apa yang harus aku lakukan?” tetapi, “Apa yang telah Yesus lakukan?” Doa kita adalah, “Tuhan, kiranya mataku terbuka untuk bisa melihat apa yang telah Engkau lakukan bagiku.”

Injil adalah kekuatan Allah

Tidak sekedar melepaskan kekuatan Allah – Injil adalah kekuatan Allah! Saat kita memperkatakan Injil, kekuatan itu keluar dari mulut kita. Saat kita bergantung pada Roh Kudus, ini bukanlah tentang berdoa agar kekuatan itu turun tetapi, memberitakan keluar kekuatan itu. Saat kabar baik tentang apa yang telah dilakukan Kristus keluar dari mulut kita, hal itu bagaikan pancaran sinar yang menghalau kegelapan.

Injil menempatkan kita pada era “sudah selesai” dari sejarah

Era ini dimulai dengan kematian dan kebangkitan Yesus, pada saat hari Pentakosta itu tiba, era Injil telah berjalan. Sebelum saat itu, orang-orang menantikan tentang apa yang akan datang; sekarang kita melihat ke belakang pada apa yang telah terjadi. Kita membaca kitab Perjanjian Lama dalam sudut pandang yang baru – setiap kejadian dilihat melalui sudut pandang dari apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Kita menyaring Perjanjian Lama melalui kaca mata Perjanjian Baru. Aplikasi utama dari kisah tentang Daud dan Goliat tidak lagi melihat Goliat sebagai lambang dari persoalan kita sebagai manusia. Akan tetapi, Daud mewakili Anak Daud (Yesus), dan Goliat, iblis dan kerajaannya. Kita melihat Daud mengalahkan Goliat sebagai lambang dari apa yang telah Yesus lakukan saat Dia menginjak kepala iblis di salib Kalvari. Kita tidak lagi mencari “kemenangan kita” – kita sekarang masuk kedalam kemenangan dari “Daud” kita, Yesus Kristus.

Saat kita bergumul melawan tipu muslihat dari pemerintah-pemerintah dan penghulu-penghulu dunia yang jahat, kita tidak berusaha untuk mengalahkan mereka. Kita hanya berdiri pada kemenangan yang telah disediakan oleh Kristus – Iblis telah dikalahkan 2,000 tahun yang lalu.

Dalam era sebelum kebangkitan, setiap orang bekerja agar mendapatkan sesuatu. Aktivitas kerohanian kita adalah menemukan dan belajar untuk berjalan dalam apa yang telah kita miliki melalui Kristus. Segala sesuatu telah menjadi milik kita – hal-hal yang sudah berlalu, saat ini, atau yang akan datang; hal-hal surgawi, hal-hal duniawi; semua berkat menjadi milik kita melalui Kristus Yesus. Saat kita melihat doa Yabes, “Oh Tuhan kiranya Engkau memberkati aku,” kita menyaring doa tersebut. Kita berdoa dalam gaya Perjanjian Baru: “Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memberkati aku dengan segala berkat rohani di dalam Kristus. Tolong aku agar bisa melihat sepenuhnya segala yang telah Engkau berikan kepadaku.” (Efesus 1:3)

Injil hanyalah tentang Yesus

Inti dari Injil adalah Kristus sebagai kebenaran kita. Saya temukan bahwa saya semakin sedikit mengkhotbahkan tentang keselamatan, kemakmuran, kesembuhan, tanda-tanda dan mukjizat dibanding sebelumnya. Sebaliknya saya mengkhotbahkan tentang Yesus Kristus sebagai kebenaran kita – dan keselamatan, kesembuhan, tanda-tanda dan keajaiban mengikutinya.

Ini adalah salah satu perbedaan yang mencolok dari sebelum dan sesudah kebangkitan. Para pengkhotbah sebelum kebangkitan, sebagai contoh Yohanes Pembaptis, mengkhotbahkan tentang dosa-dosa dan kelemahan orang untuk mengarahkan pada pertobatan. Pengkhotbah Perjanjian Baru, dimulai oleh para rasul dan Filipus sang penginjil, mengkhotbahkan Kristus. Mereka menekankan pertobatan dari mengandalkan diri sendiri dan mempercayai kebenaran kita sendiri dengan cara mengarahkan orang-orang pada Kristus.

Pendiri gereja Missionary Alliance, A.B. Simpson, mempopulerkan frase: “Dunia tidak mempunyai masalah DOSA; dunia punya masalah ANAK.” Sekilas pernyataan ini sulit dicerna oleh banyak orang. Akan tetapi, saat kita melihat kitab suci tanpa pandangan dihalangi oleh tradisi, kita melihat bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang telahmenghapus dosa dunia (Yohanes1:29). Dia melakukannya dengan satu pengorbanan – sekali dan untuk semuanya. Darah Yesus tidak hanya merupakan pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (1 Yohanes 2:2). Banyak orang belum mendengar pesan ini. Sebaliknya mereka telah diberitahu untuk membereskan dosa-dosanya, sementara faktanya Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan mendamaikan dunia dengan diri-Nya – dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Korintus 5:18-19). Roh Kudus tidak lagi menginsyafkan manusia dari dosa-dosa mereka, tetapi akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada Yesus (Yohanes 16:8-11). Sekarang semuanya telah tercakup dalam Yesus.

Injil adalah bahwa Tuhan telah menghakimi dosa-dosa dunia

Seringkali saya mendengar orang mengatakan bahwa Tuhan akan menghakimi Amerika atau beberapa negara lainnya. Sangat sedikit yang mengatakan tentang bagaimana Tuhan telah menghakimi dosa-dosa Amerika dengan penghakiman yang telah ditimpakan pada Kristus (Yesaya 53:5-6).

Injil mengubah tingkah laku manusia

Kasih karunia Allah yang menyelamatkan kita merupakan kasih karunia yang sama yang mendidik kita supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah dalam dunia yang tidak mengenal Allah (Titus 2:11). Banyak orang telah mendengar bahwa mereka harus “menyucikan” hidup mereka agar bisa menerima kasih karunia Allah. Ini adalah pengajaran yang salah, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk “menyucikan” diri mereka sendiri. Jika mereka memang mampu maka kematian Kristus di kayu salib tidaklah dibutuhkan. Faktanya, kita manusia tidak mempunyai harapan. Lima ratus tahun lalu para Reformis Kristen memang benar saat mereka mengemukakan doktrin tentang “kebejatan total” manusia. Rasul Paulus menggambarkan kebejatan ini dalam bahasa yang sangat gamblang: ““Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” (Roma 3:10-17)

Pernyataan yang luar biasa! Inilah umat manusia, tidak mampu untuk merubah dirinya sendiri. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyamarkan kondisi yang sebenarnya dari hati kita yang penuh dosa dengan perilaku keagamaan.

Hanya ada satu harapan yang tersisa – menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Kemauan keras kita tidaklah cukup untuk membuat kita bertobat; tidak ada satupun yang baik di dalam kita. Menjadi ciptaan baru dalam Kristus, itulah yang ada artinya. (Galatia 6:15).

Itulah mengapa Paulus mengatakan, “Aku tidak malu akan Injil.” Mengapa? Injil menjadikan kita ciptaan baru. Injil adalah kekuatan Allah! Injil bukanlah sekedar kisah yang kedengarannya indah, logis dan agamawi. Injil merubah hati manusia; sekali hati manusia diubahkan maka perilakunya juga berubah.

Revolusi Injil menunjukkan perbedaan yang sebenarnya antara Injil dan semua agama

Injil itu mulia, luar biasa, mengagumkan dan indah. Janganlah mengurangi hal tersebut dengan menganggapnya hanya sebatas agama belaka

Revolusi Injil memerdekakan orang percaya

Salah satu tragedi terbesar dari kekristenan modern adalah terlalu banyak orang percaya yang terikat, terintimidasi, tertahan. Orang yang telah pergi ke gereja sepanjang hidupnya masih mencari “terobosan” mereka. Lebih menyedihkan, beberapa dari mereka bahkan belum mengetahui bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni dan bahwa kita telah memiliki segalanya di dalam Kristus. Dalam kondisi yang kalah ini, harapan apa yang harus kita tawarkan pada dunia? Inilah yang membuat pesan kita menjadi tidak menarik. Jika mereka yang mengaku mempunyai kebenaran itu belum mengalami kemerdekaan, akankah orang lain mau bergabung dengan kita? Peperangan untuk kemerdekaan orang percaya bukanlah hal yang baru. Orang percaya di Galatia mundur dari kemerdekaan mereka di dalam Kristus, menjauh dari Injil kasih karunia masuk ke dalam agama yang digerakkan oleh perbuatan. Paulus menulis: “Berdirilah teguh dalam kemerdekaan dimana Kristus telah memerdekakan kamu.”

Revolusi Injil membawa orang percaya keluar dari kategori “belum”

Menjauhkan gambaran yang tidak menyenangkan tentang orang percaya yang memegang wadah kaleng, meminta agar Tuhan memberikan terobosan, berkat dan keuntungan lebih lagi. Sebaliknya, kita sekarang hidup dalam terang pewahyuan bahwa “oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita – membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” (1 Korintus 1:30)

Revolusi Injil meninggikan salib Yesus mengatasi hikmat manusia

Pengajaran tentang hikmat manusia semakin populer. Tanpa kasih karunia Allah melalui apa yang telah dilakukan Yesus, hal terbaik yang bisa kita dapatkan saat ini ada pada bagian motivasi di toko buku dimana banyak penulis yang memberikan nasehat yang baik. Ada banyak ahli yang berusaha sebaik mungkin untuk memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk meraih hidup yang lebih baik melalui TV. Saya menghargai usaha mereka, tetapi semua nasehat tersebut tidak memiliki kuasa untuk bisa merubah perilaku manusia. Memang menganalisa masalah dan menerima nasehat bagaimana memecahkan situasi yang kita hadapi merupakan suatu hal tersendiri. Kita menganggukkan kepala, setuju untuk membereskan masalah kita dengan cara yang berbeda, dengan harapan hal itu bisa merubahnya. Bahkan melalui hikmat manusia mungkin kita meraih kesuksesan dalam tingkatan tertentu, meskipun pada akhirnya kita akan gagal juga.

Injil benar-benar berada pada dimensi yang berbeda. Peringata Paulus bahwa hikmat manusia membuat salib “tidak ada pengaruhnya.” Sama seperti bangsa Yunani 2000 tahun lalu, banyak orang pada saat ini mencari hikmat. Hal itu menarik bagi pikiran dan logika kita. Kita semua senang dengan hal-hal yang kedengarannya masuk akal dan dipikirkan dengan baik. Bagaimanapun juga, tugas kita bukanlah menyampaikan hikmat manusia – kita harus memberitakan salib Kristus. Mengapa? Hikmat manusia yang terbaik pun akan tetap gagal. Bahkan orang-orang yang mempunyai tujuan baik pun tidak dapat bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip hikmat yang mereka anggap benar.

Sangat sering, Injil Kristus dikesampingkan agar dapat mengajarkan hikmat manusia. Mengambil pengajaran dari kitab Amsal dan Pengkhotbah menjadi sangat umum. Kitab-kitab tersebut adalah Firman Tuhan, tetapi jika Anda membacanya dalam terang Perjanjian Baru, Anda akan menyadari bahwa Yesus Kristus telah menjadi Hikmat kita. Yesus Kristus adalah satu-satunya yang dapat membuat kita bertindak dalam kebenaran-kebenaran tersebut. Tanpa mempunyai hubungan yang terus menerus dengan Kristus, kita semua tidak akan dapat melakukan semua kebenaran yang dituliskan oleh Salomo dan para penulis yang lain. Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1 Korintus 1:19-24)

Revolusi Injil menguatkan orang percaya

Saat ini banyak orang lebih memfokuskan waktu mereka pada iblis dan kegelapan, tetapi hal ini tidak pernah menjadi perkara dalam kitab Kisah Para Rasul. Mereka tidak melakukan peperangan rohani seperti yang sering kita lihat terjadi pada saat ini. Fokus mereka adalah membiarkan terang itu bercahaya sehingga kegelapan itu sirna. Salah satu acara TV favorit saya selama bertahun-tahun adalah “Crossfire” dari CNN, dimana ada dua pihak yang saling bertentangan berdebat tentang posisi politik yang berbeda. Terkadang kekristenan saat ini telah menjadi seperti acara “Crossfire”. Kita berdebat tentang banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kita melakukan protes besar-besaran saat balai kota memasang spanduk “Happy Holidays” dan bukan “Merry Christmas”. Secara alami, jika saya harus membuat keputusan, saya akan memasang “Merry Christmas” dimana-mana. Saya suka nama Kristus. Meskipun demikian, sejujurnya perbedaan apa yang dihasilkan jika orang-orang belum lahir baru? Mengapa kita berjuang begitu keras dalam hal-hal semacam itu sementara rasul Paulus mengatakan bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya (Galatia 6:15)? Apa baiknya bila negara kita melekat pada nilai-nilai Kekristenan atau tradisi tetapi warganya tidak lahir baru? Sebenarnya, saya menyukai nilai-nilai Kristen, namun nilai-nilai saja tidak menyelamatkan manusia – Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Revolusi Injil menerangi dunia

Rasul Paulus menulis tentang terang cahaya Injil dan dia menambahkan: “Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita! Kita memiliki harta Injil ini di dalam hati kita. Solusi dari semua dilema adalah membiarkan terang Tuhan bercahaya. Dunia harus mendengar bahwa dosa-dosa mereka telah dibatalkan. Apakah Anda ingin keluarga, kota, gereja dan bangsa Anda mengasihi Tuhan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Cukup sederhana. Kita mengasihi Tuhan karena Dia lebih dulu mengasihi kita.

Semakin banyak kita menunjukkan kepada orang betapa besar Tuhan mengasihi mereka, semakin besar pula mereka akan mengasihi Dia. Kita bukanlah yang memulai – Tuhan yang telah memulai segalanya. Kita tidak lagi menantikan gerakan Tuhan – kita melihat bahwa Tuhan telah bergerak. Saat kita menemukan apa yang telah Dia lakukan, respon kita merupakan salah satu tindakan timbal-balik dari kasih, pelayanan, dedikasi dan penyucian.

Revolusi Injil membuat bersaksi menjadi alami

Kadang kita memutuskan untuk “bersaksi” selama beberapa jam. Betapa tidak alaminya membatasi kesaksian dalam suatu jangka waktu, dibanding membagikan Kristus kapanpun seseorang bertemu kita dengan hanya membiarkan terang di dalam kita bercahaya. Selama bertahun-tahun saya mencoba membuat orang mau memberitakan Injil kepada teman-teman mereka. Saya telah menghentikan hal itu. Sekarang saya lebih fokus pada membantu orang untuk menemukan betapa luar biasanya Injil itu. Saat orang bisa melihat betapa luar biasanya Injil, mereka secara alami akan mau membagikannya. Jika Anda menemukan dealer Mercedes Benz di kota Anda memberikan diskon 90%, tidakkah Anda memberi tahu teman-teman Anda? Tentu saja. Jika Dell memberikan komputer tercanggihnya secara gratis, dalam jumlah yang tidak terbatas, maka Anda pasti menceritakannya pada orang lain. Saat kita menemukan realita mengagumkan dari Injil, kita tidak akan menahannya.

Dunia telah siap untuk Revolusi Injil

Jutaan, bahkan milyaran orang lelah akan hidup mereka yang kalah, penuh dengan kegagalan dan penyesalan. Merupakan sebuah kesempatan untuk menawarkan pada mereka sebuah hidup yang baru! Tukarkan yang lama dengan yang baru. Pesan ini berbicara pada hati nurani yang terluka, terluka karena mencoba berbuat sesuai dengan yang mereka ketahui itu benar tetapi terus menerus gagal melakukannya. Pesan tentang kasih karunia Allah – belas kasihan Allah yang sebenarnya tidak semestinya diberikan, tidak bisa diusahakan, tidak pantas diterima – yang memberikan kemerdekaan bagi semua yang percaya. Selama kita memandang kekristenan hanya sebatas nilai-nilai, etika dan prestasi manusia, kita tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. Saat kita membebaskan Injil dari agama buatan manusia, hari yang baru akan menyingsing. Biarkan Injil sebagaimana adanya – brilian, bersinar, indah, menarik dan memberi kekuatan. Revolusi telah dimulai – dunia sedang menanti!

——————————————————————————————————————–

phpThumb_generated_thumbnail (1)

 

Oleh : Pastor Peter Youngren

Sumber : http://globalgracenews.org/

Kami sangat ingin mendengar anda, GBu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s